Piala Dunia dan Refleksi Olahraga Kita

243 views

worldcup

DEMAM bola kini sedang menghinggapi jutaan orang di muka Bumi ini. Piala Dunia 2014 yang kini sedang berlangsung di Brazil hingga 14 Juli nanti, telah mengalahkan gegap-gempita apapun, termasuk mengalahkan politik Indonesia yang membelah rakyat. Pemilihan Presiden (Pilpres) yang akan berlangsung 9 Juli, telah melahirkan polarisasi yang membelah rakyat menjadi dua bagian: ke Prabowo Subianto atau Joko Widodo, dua calon yang kini tengah mencari simpati rakyat.

Para pendukung di akar rumput terlihat ikut-ikut gontok-gontokan dengan saling menyerang pendukung sebelahnya dengan alasan yang berbeda. Kampanye gelap maupun terang, terjadi di mana-mana, tidak hanya di media massa, media sosial, kedai kopi, dan di banyak tempat. Polarisasi ini akan berbahaya jika menjelang pemilihan nanti terus terjadi, karena akan bisa melahirkan suasana yang tak nyaman.

Untunglah, ketidaknyamanan akibat kondisi politik ini bisa dinetralkan dengan kehadiran Piala Dunia 2014. Olahraga, seperti yang menjadi filosofi kelahiran Olimpiade, adalah salah satu jalan untuk menyatukan manusia yang tercerai-berai oleh kepentingan-kepentingan politik, agama, perbedaan sosial, dan sebagainya. Olahraga –salah satunya sepakbola— diharapkan menjadi jembatan yang membuat manusia saling menghargai dan menghormati dengan melupakan sekat-sekat yang selama ini menjadi pemisah.

Meskipun dalam banyak kejadian olahraga dan sepakbola juga sering menciptakan tragedi, namun, di luar itu, olahraga (sepakbola) mestinya memberikan kegembiraan. Olahraga harus dipandang murni sebagai sebuah olahraga, juga sepakbola. Kalau dalam politik dan perang ada diktum bahwa lawan harus dikuasi dan dihancurkan, atau dibinasakan, dalam olahraga, lawan adalah teman bermain, teman bertanding, sparing partner. Di lapangaan, di arena, di gelanganggang dan di tempat-tempat manapun olahraga itu dipentaskan, boleh terjadi pergesekan, adu kekuatan, unjuk kemampuan, dan sebagainya, tetapi ketika selesai, maka perkawanan dan persahabatan adalah hasil akhir. Kalah dan menang itu memang harus ada, tetapi lebih dari itu, olahraga bukan hanya persoalan kalah dan menang saja. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana memahami filosofi bahwa yang menang harus menghargai yang kalah, dan yang kalah harus menghormati yang menang. Bukan yang menang jadi arang dan yang kalah jadi abu.

Seperti halnya politik, pertarungan di tingkat elite, pasti juga terjadi di masyarakat bawah. Dalam olahraga, hal seperti itu juga terjadi. Sering kita dengar bagaimana para pendukung yang justru terlihat begitu beringas dan sangar: saling mengejek, saling melempar, bahkan saling pukul dan bunuh yang mencederai filosofi dasar olahraga tersebut. Mereka yang berprilaku seperti ini harus dijauhkan dari olahraga. Contoh paling baik sekarang diberlakukan oleh beberapa federasi sepakbola di Eropa dalam melawan kekerasan dalam sepakbola maupun sikap rasialis para pendukung. Mereka yang terbukti melakukan kekerasan atau bersikap rasialis, tak mendapatkan tempat duduknya lagi di stadion. Kekerasan harus dilawan, juga sikap rasialis yang tak mengindahkan kesetaraan.

Piala Dunia adalah pesta yang seharusnya memang dijauhkan dari orang-orang yang hanya ingin mencari kekerasan dan menyudutkan orang lain. Di masa lalu, para pendukung tim nasional Inggris (holigans) dianggap pendukung paling brutal di seantearo jagat. Mereka selalu membikin rusuh di manapun timnya bermain. Hampir di setiap perhelatan besar yang diikuti Three Lions, panitia selalu kesulitan membendung hawa nafsu kekerasan mereka. Pelan tapi pasti, regulasi yang dikeluarkan FIFA terhadap kekerasan memang ketat: harus tanpa kompromi. Siapa yang terbukti melakukan kekerasan, harus dipulangkan. Inilah yang kemudian membuat para pendukung Inggris tak seberingas dulu.

Di Indonesia, khususnya sepakbola, kekerasan juga sering terjadi antar-pendukung klub. Bonek (pendukung garis keras Persebaya) dianggap kelompok yang memiliki karakter keras paling brutal. Mereka akan melakukan kerusuhan di manapun Persebaya bermain, kalah maupun perang. Di masa lalu, saat kompetisi masih dualisme antara Galatama dan Perserikatan, setiap Persebaya lolos ke Senayan (Jakarta) di kompetisi Perserikatan, maka akan menjadi alamat buruk bagi kota-kota di Jawa yang rutenya dilalui kereta api pengangkut mereka. Seperti namanya, Bonek adalah mereka yang menjadi pendukung tanpa modal, alias bondo nekat. Mereka datang ke Jakarta tanpa uang, bahkan kadang dengan hanya memakai satu baju yang melekat di badan. Di Jakarta, mereka sering membuat onar, baik di dalam maupun luar lapangan. Untuk meredam mereka, panitia putaran final harus menjatah makan mereka setiap hari. Ketika pulang, agar tidak menimbulkan kerusuhan di jalan, mereka disatukan dalam satu kereta khusus dengan pengawalan petugas keamanan.

Selain Bonek, Bobotoh Persib Bandung selalu bermusuhan dengan The Jekmania, suporter Persija Jakarta. Hampir dipastikan, jika dua klub ini bertanding di manapun, kedua kelompok ini pasti bentrok. Juga masih banyak lagi kelompok-kelompok suporter yang bersikap seperti itu, yang tak mencerminkan dirinya sebagai pecinta sepakbola. Apakah benar mereka pecinta sepakbola? Tidak. Mereka hanya menjadikan sepakbola sebagai salah satu jalan untuk mendapatkan yang mereka inginkan, yakni merusak dan menghancurkan. Para pelaku desktruktifisme hanya mencari kesenangan ketika merusak, menghancurkan, dan membuat keonaran. Dengan bisa melakukan apa yang mereka inginkan, maka mereka mendapatkan kepuasan.

Prilaku tersebut harus benar-benar dijauhkan dari sepakbola dan olahraga secara umum. Penyelenggaraan Piala Dunia adalah salah satu contoh yang bagaimana semua pihak bisa diajak bersama menjaga agar iven ini benar-benar menjadi sebuah tontonan untuk kegembiraan, membuat semua orang yang datang ke stadion maupun mereka yang menyaksikan di rumah, menjadi ikut bahagia dan bergembira. Ini yang membuat iven tersebut begitu ditunggu banyak orang karena menjadi cermin kemegahan sebuah penyelenggaraan, kedisiplinan tinggi yang diterapkan untuk semua orang, dan kemasyhuran prestasi yang dianggap tak ternilai oleh apapun.

Di Indonesia, dengan sumber daya manusia yang tersedia banyak, baik untuk pelaku sepakbola (dan olahraga secara umum) maupun mereka yang menjadi pendukungnya. Piala Dunia harus menjadi refleksi bagi kita untuk memperbaiki sistem olahraga kita, khususnya sepakbola, agar tak semakin jauh ketinggalan dari negara lain.***