PPM PB PON Jabar Belajar ke Riau

Tidak ada komentar 271 views

Kunjungan PPM Pon Jabar

Diminta untuk menularkan pengalaman dalam penyelenggaraan PON 2012, terutama dalam pelayanan media, oleh PPM PB PON Jabar, Ketua KONI Riau H Emrizal Pakis memaparkan dengan jelas. Penyiaran dan pelayanan media adalah hal yang sangat penting dan harus dikelola dengan baik.

Bidang Penyiaran dan Pelayanan Media (PPM) PB PON Jawa Barat (Jabar) 2016 melakukan kunjungan ke KONI Riau, Selasa (18/11/2014) lalu.  Rombongan dipimpin Ketua Bidang PPM PB PON Jabar, Ateng  Kusnandar, yang membawa 12 anggota PPM PON Jabar yang berasal dari beberapa media seperti Koran Sindo Jabar, Pikiran Rakyat, Galamedia, RCTI, dan beberapa media lainnya. Mereka diterima Ketua Umum KONI Riau H Emrizal Pakis dan beberapa pengurus KONI Riau seperti H Moeh Roem (bendahara), Syahrial (kepala sekretariat), Hary B Koriun (bidang humas dan media), dan beberapa pengurus lainnya.

Sebelumnya, mereka sudah berkunjung ke Setda Provinsi Riau, PT Chevron Pacific Indonesia (CPI), dan beberapa lembaga lainnya. Mereka ingin belajar cara pengelolaan penyiaran dan pelayanan media ke Riau yang sukses menyelenggarakan PON 18 2012 lalu. Kesuksesan Riau dalam menyelenggarakan PON 2012, termasuk keberadaan media center yang dianggap terbaik di Indonesia sepanjang sejarah penyelenggaraan PON di Indonesia, membuat Bidang PPM Jabar ingin dapat transfer ilmu.

“Kami sengaja datang ke Riau untuk belajar cara pengelolaan pelayanan media. Kami tahu Riau sukses dalam penyelenggaraan PON 2012 lalu tanpa kendala berarti, temasuk pelayanan media center yang sangat maksimal dan dianggap yang terbaik dalam sejarah penyelenggaraan PON di Indonesia,” ujar Ateng.

Ateng berharap, kunjungan PPM PON Jabar ke Riau, akan membawa hasil. “Kami ingin trnasfer ilmu agar 20 ribu lebih atlet dan ofisial serta wartawan yang datang ke Jabar nanti dapat pelayanan yang maksimal,” jelasnya lagi.

Emrizal Pakis yang saat PON 2012 lalu menjabat Ketua I yang membidangi pertandingan dan infrastruktur, menjelaskan secara umum penyelenggaraan yang dilakukan di Riau, terutama dalam pelayanan media. Dia juga menjelaskan bagaimana detail penyelenggaraan media center PON 2012 lalu. Mulai dari gedung yang dipakai, infrastruktur pendukung seperti ruangan kerja pers yang dilengkapi internet, aplikasi program, 20 tv monitor,  studio mini untuk televisi dan radio, ruang multimedia, termasuk ruang istirahat bagi wartawan.

“Intinya, media center harus memberi pelayanan yang nyaman untuk wartawan bekerja,” jelas Emrizal.

Dijelaskan Emrizal juga, selain memiliki media center utama di Gedung Pustaka Soeman Hs, beberapa media center  mini juga dibuat di beberapa tempat pertandingan seperti di kompleks Stadion Rumbai, kompleks stadion utama, di UIR, dan beberapa tempat lainnya. Di Pekanbaru ada sekitar delapan media center mini. Tidak hanya itu, di beberapa kabupaten/kota yang menggelar pertandingan, juga ada media center mini.

Yang harus dipikirkan dalam pengelolaan media center ini, kata Emrizal, adalah bagaimana informasi di lapangan bisa diakses dengan mudah oleh wartawan yang kemudian disampaikan kepada khalayak. “Salah satu cara yang kami pakai dan ini terbukti efektif adalah, media center langsung bekerja sama dengan bidang pertandingan. Di setiap pertandingan ada petugas media center di sana dan dia yang menginput data untuk dilaporkan ke pusat pengelolaan data di media center utama. Dari sanalah informasi dari lapangan itu disebarluaskan, termasuk update perolehan medali yang dalam sehati kami lakukan dua kali, yakni sore dan malam hari,” ungkap Emrizal.

Salah satu persoalan yang agak “ramai” dalam bidang pertandingan di PON 2012, tambah Emrizal,  adalah di cabang sepakbola. Karena dualisme dalam kepemimpinan federasi, PSSI, ada beberapa provinsi yang mengirimkan dua timnya. Kondisi ini sangat rumit dan merepotkan bidang pertandingan karena jelas-jelas menganggu. “Untunglah bisa diselesaikan dengan baik, meski riak-riaknya tetap timbul ke permukaan.”

Emrizal berharap, penyelenggaraan PON 2016 di Jabar tak mendapatkan kendala berarti. “Kami selalu siap membuka diri menularkan pengalaman sebagai tuan rumah sebelumnya. Dulu, kami juga selalu berkomunikasi dan minta ditularkan pengalaman dari Kalimantan Timur yang menjadi tuan rumah PON 2008,” pungkas Emrizal.***