Siman Minta Rp 30 Juta, KONI Belum Ambil Sikap

Tidak ada komentar 270 views
I GEDE-SIMAN (Custom)

KONI Riau belum mengambil sikap tentang adanya permintaan pihak I Gede Siman Sudartawa tentang besaran biaya pembinaan yang mencapai diatas Rp30 juta perbulan. Sehingga I Gede Siman maih diragukan bakal tampil membela Riau di PON XIX Jabar 2016.

Namun Ketua KONI Riau menegaskan, hingga saat ini I Gede Siman masih milik Riau dan akan bertanding pada Pekan Olahraga Wilayah (Porwil) Sumatera 2015 yang digelar di Provinsi bangka Belitung pada Oktober atau November nanti.

“Sampai saat ini dia (I Gede Siman, red) masih milik Riau. Jadi dia akan bertanding pada Porwil di Babel nanti,” ujar Emrizal Pakis.

Terkait permintaan pihak I Gede Siman, Emrizal mengatakan masih mencari titik temu untuk menegosiasi besaran biaya yang dikeluarkan untuk atlet renang kelahitan Bali, 8 Desember 1994.

Menurut Emrizal, beberapa waktu lalu pihaknya sudah menemui pihak I Gede Siman beberapa waktu lalu. Waktu itu KONI bertemu langsung dengan orang tua I Gede Siman. Orangnya tuanya meminta biaya pembinaan lebih dari Rp30 juta per bulan. Selain itu juga tryout, biaya asuransi kesehatan, bonus medali dan lainnya.

Semua permintaan tersebut, jelas Emrizal, tidak ada masalah dan bisa dipenuhi. Karena semua permintaan tersebut masuk dalam program KONI Riau. Seperti try out, asuransi kesehatan dan bonus medali yang diraih atlet.

‘’ Yang belum ketemu itu hanya soal biaya pembinaan. kalau mereka meminta biaya di atas Rp30 juta, tetapi kita hanya bisa yang standar saja. Nah ini yang akan akan kita cari titik temunya,’’ katanya.

Sementara itu Waka Binpres KONI Riau Sanusi Anwar mengatakan permintaan tersebut memang diraskan berat bagi Riau. Terkait hal itu dirinya menyerahkan sepenuhnya kepada Ketua KONI Riau.

“Saya kira semuanya tergantung ketua KONI Riau. Tapi kalau memang Siman enggan membela Riau ,  ia juga dipastikan tidak akan membela daerah lain,” kata pria yang akrab disapa Uci ini.

Seperti diketahui, perenang asal Bali ini, saat di rekrut Riau usai Popnas 2009 di Jogjakarta merupakan atlet tanpa prestasi. Namun setelah dalam genggaman Riaumasuk dalam program PPLP Riau , perlahan  prestasi semakin melejit. Bahkan menjadi salah satu tulang punggung Indonesia di iven internasional.

Seperti kata  pepatah “kacang lupa kulitnya” itulah yang kini terjadi. Meski secara prestasi ia berhasil mengangkat nama Riau dan Indonesia, atlet seperti ini pantas di evaluasi  dan KONI Riau sudah sewajarnya bersikap tegas.(*)