Strategi Khusus Hadapi PON 2016

Tidak ada komentar 256 views

ponjabar

 

Untuk menyamai prestasi PON 2012 Riau, memang sulit, tetapi KONI Riau akan bekerja keras di PON 2016 Jawa Barat. Apa langkah-langkah yang dilakukan lembaga yang dipimpin Emrizal Pakis ini?

KOMITE Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Riau menetapkan Rencana Strategis (Renstra) selama satu periode kepengurusan. Penetapan itu dilakukan dalam rapat pleno pengurus KONI Riau periode 2014-2018 di Hotel Ibis, Rabu, 19 Maret 2014 lalu.

Hadir dalam rapat tersebut hampir seluruh pengurus, di antara Ketua Umum KONI Riau H Emrizal Pakis, Wakil Ketua I H Zulkifli Saleh, Wakil Ketua II H Abdul Lafiz Manan, Wakil Ketua III H Asmawie Mukri, Sekretaris Umum H Darmansyah, Bendahara Mohamad Roem, serta masing-masing ketua bidang dan anggota masing-masing bidang.

H Emrizal Pakis menjelaskan, rapat tersebut dilakukan untuk memantapkan program kerja KONI selama empat tahun ke depan dengan memberikan penekanan-penekanan pada hal-hal yang penting dan utama yang tujuan akhirnya adalah prestasi atlet.

Hal-hal yang penting dan utama itu adalah perencanaan yang matang setiap cabang olahraga, pencarian bibit atlet unggul, serta pembinaan yang baik dan berkualitas dengan melibatkan sains dan teknologi.

Untuk mendapatkan tujuan akhir menghasilkan atlet berprestasi tersebut, pembinaan dan pelatihan secara baik untuk para pelatih, wasit, atau juri, juga sangat penting. Untuk hal itu, akan dilakukan rekrutmen dari para mantan atlet berprestasi dan guru olahraga dan dari pelaku olahraga, kemudian mengirimkan mereka dalam pelatihan-pelatihan, penataran, maupun workshop yang bersertifikat, terakreditasi, dan diakui secara umum dan internasional.

“Atlet berprestasi, pelatih, wasit, maupun juri di bidang masing-masing tersebut akan diberi dana pembinaan yang signifikan, penghargaan tinggi, dan hal-hal lain yang bisa mempertahankan atau meningkatkan prestasinya,” jelas Emrizal.

Dalam rapat tersebut juga disahkan rancangan kerja masing-masing bidang. Dalam pembahasan yang lumayan alot, disepakati tentang penekanan masing-masing bidang untuk bekerja serius, dengan tujuan akhir tetap membantu tercapainya prestasi olahraga masing-masing atlet di setiap iven yang diikuti atlet Riau.

Untuk jangka pendek, prestasi tinggi di PON XIX 2016 Jawa Barat (Jabar) adalah target utama. Mempertahankan prestasi sebagai peringkat keenam dalam PON Riau 2012 lalu, memang sangat berat. Dengan meraih 43 emas, 39 perak, dan 51 perunggu di PON 2012 (yang merupakan pencapaian tertinggi prestasi Riau di PON), beban prestasi di PON selanjutnya menjadi tidak ringan.

“Kami tidak pesimis, tetapi berpikir realistis bahwa ketika PON diselenggarakan di provinsi lain, Riau tidak akan mendapatkan kemudahan-kemudahan seperti yang didapat saat menjadi tuan rumah. Ini menjadi tantangan, dan itu harus dihadapi,” jelas Emrizal lagi.

Untuk mencapai prestasi tinggi tersebut, kata Emrizal, semua bidang yang ada di KONI Riau harus bekerja sama dan berkoordinasi dengan masing-masing pengurus provinsi (pengprov) cabang olahraga (cabor) dan masing-masing KONI kabupaten/kota. Hal ini memang harus dilakukan karena masing-masing pengprov itulah yang memiliki atlet. Pengprov harus didorong dalam menghasilkan atlet berprestasi tersebut.

Emrizal juga menekankan agar Bidang Aset, Sarana, dan Prasarana KONI Riau memaksimalkan penggunaan sarana dan prasarana atau venue yang dimiliki Riau bisa digunakan oleh atlet masing-masing Pengprov. Seperti kita ketahui, menjelang PON 2012 lalu, Riau membangun banyak arena olahraga. Hingga kini, arena-arena tersebut banyak yang tak dipakai, dan bahkan banyak yang tak terurus.

“Bidang Aset, Sarana, dan Prasarana harus berkoordinasi dengan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Riau sebagai pengelola venue tersebut agar bisa dipakai untuk latihan atlet masing-masing cabang olahraga,” kata Emrizal.

Emrizal juga berharap, Bidang Pembinaan Prestasi (Binpres) benar-benar bekerja keras untuk menemukan, melahirkan, membina atlet-atlet yang akan berprestasi di masa depan dan menyelenggarakan iven-iven sebagai alat ukur prestasi atlet sebelum terjun di iven lebih besar nasional maupun internasional. Menurut Emrizal, Binpres adalah lokomotif yang harus terus bergerak untuk menghasilkan dan mempertahankan prestasi.

Ketua Bidang Binpres KONI Riau, Sudarman Umar, menjelaskan, fokus bidang yang dipimpinnya saat ini adalah PON XIX 2016. “Target kami, jika di PON sebelumnya ada atlet dapat perunggu maka diupayakan di PON nanti dia dapat perak atau emas. Begitu juga yang dapat perak sebelumnya, bisa naik menjadi emas. Ini memang kerja berat, tetapi kami akan terus bekerja keras,” jelas Sudarman.

Dengan penetapan Renstra KONI dan rancangan kerja masing-masing bidang ini, KONI sudah fokus dalam bekerja dengan tujuan akhir melahirkan atlet-atlet berprestasi di semua iven yang diikuti atlet Riau, termasuk puncaknya adalah iven PON XIX 2016.(p-2)